INTERNET RAKYAT – Teknologi internet terus berkembang pesat, tak hanya menghubungkan kita lewat chat atau video call, tapi kini semakin canggih hingga bisa membuat kita ‘nongkrong’ bareng di ruangan virtual yang persis seperti dunia nyata. Kabar terbaru dari Meta menunjukkan bagaimana kita bisa membawa rumah atau warung kita sendiri ke dunia maya untuk disambangi teman-teman dari mana saja, membuka potensi baru bagi masyarakat luas.

Ringkasan Kabar

Meta, perusahaan di balik Facebook dan Instagram, meluncurkan fitur baru yang menarik. Melalui kacamata canggih (headset) seperti Quest 3 atau Quest 3S, kita bisa memindai ruangan fisik di rumah, kantor, atau bahkan warung kopi Anda. Nah, hasil pindai ini kemudian ‘disulap’ menjadi ruangan digital yang bisa dikunjungi oleh teman-teman Anda. Bayangkan, ruang tamu Anda di desa bisa menjadi tempat kumpul virtual bagi keluarga yang merantau di kota!

Sebelumnya, fitur pemindaian ruangan ini hanya bisa dinikmati sendirian. Tapi kini, Anda bisa mengajak hingga delapan orang teman untuk masuk ke ruangan digital tersebut secara bersamaan. Mereka bisa ikut masuk menggunakan headset yang sama atau melalui aplikasi di ponsel mereka. Pengalaman ngumpul ini diklaim akan terasa lebih responsif dan alami, seolah-olah Anda memang sedang berada di ruangan yang sama.

Langkah ini menunjukkan bahwa teknologi ini bukan cuma pajangan, tapi sedang dikembangkan serius sebagai platform sosial baru di dunia maya. Meski baru diluncurkan bertahap dan pengguna harus memindai ulang ruangan mereka, Meta melihat Hyperscape ini sebagai kunci untuk menciptakan metaverse, yaitu dunia virtual yang merupakan replika dunia nyata, bisa diakses dan dinikmati oleh siapa saja.

Dampak Bagi Kita

Bagi masyarakat biasa, terutama di desa-desa yang mungkin masih kesulitan bertemu langsung dengan keluarga atau teman karena jarak, teknologi ini menawarkan solusi menarik. Ini adalah terobosan yang bisa mengubah cara kita berinteraksi dan beraktivitas:

  • Mempererat Silaturahmi Lintas Jarak: Keluarga yang tinggal berjauhan bisa ‘berkumpul’ di ruang tamu virtual. Anak-anak yang merantau bisa ‘pulang’ ke rumah orang tua mereka di desa, meskipun hanya secara digital, untuk sekadar ngobrol atau bercerita.
  • Peluang Baru untuk UMKM Desa: Bayangkan, pemilik toko kerajinan tangan atau warung kopi di desa bisa membuat replika virtual dari tempat usaha mereka. Pelanggan dari kota atau bahkan luar negeri bisa ‘masuk’ ke toko tersebut, melihat-lihat produk, atau bahkan memesan kopi seolah mereka hadir langsung. Ini adalah cara baru untuk memperluas jangkauan pasar tanpa perlu biaya besar untuk sewa tempat. Hal ini sejalan dengan pentingnya inovasi bagi UMKM, seperti memanfaatkan AI generator untuk membuat logo produk atau mempelajari aset kripto untuk pengembangan UMKM, serta bagaimana mengelola database pelanggan di era digital.
  • Edukasi dan Pelatihan yang Lebih Menarik: Guru bisa menciptakan ruang kelas virtual yang lebih interaktif, atau pelatihan keahlian bisa dilakukan di ‘lokasi’ yang relevan tanpa harus bepergian jauh.
  • Turisme Virtual: Desa wisata bisa membuat tur virtual dari keindahan alam atau situs budaya mereka, menarik minat wisatawan dari seluruh dunia untuk ‘mengunjungi’ sebelum mereka datang secara fisik.

Namun, semua kecanggihan ini tentu saja memiliki tantangan, terutama terkait keterjangkauan dan aksesibilitas. Saat ini, perangkat seperti headset Meta Quest 3 masih tergolong mahal bagi kebanyakan masyarakat. Selain itu, teknologi ini membutuhkan koneksi internet yang cepat dan stabil. Oleh karena itu, ketersediaan jaringan fiber optik mandiri dan program internet masuk desa menjadi sangat penting agar semua lapisan masyarakat, termasuk di pelosok, bisa merasakan manfaat teknologi ini. Jika harga perangkat jaringan murah dan perangkat virtual reality ini semakin terjangkau, maka potensi dampak positifnya bagi kehidupan sehari-hari dan ekonomi masyarakat desa akan sangat besar.

Dengan demikian, Hyperscape bukan hanya tentang hiburan, tapi juga tentang membuka gerbang baru untuk konektivitas sosial, ekonomi, dan pendidikan yang lebih luas, asalkan infrastruktur dan perangkat pendukungnya bisa semakin merakyat.


Sumber Foto: Dokumentasi Media / inet.detik.com

By mangasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *