INTERNET RAKYAT – Dunia terus melesat menuju era internet super cepat 5G. Berbagai laporan menyebutkan bahwa miliaran orang di seluruh dunia akan segera merasakan kecanggihan teknologi ini. Namun, bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah pedesaan, pertanyaan besarnya tetap sama: apakah lonjakan teknologi ini akan benar-benar membawa `akses internet merata` yang terjangkau dan bermanfaat bagi kita semua, ataukah hanya akan menjadi privilese bagi segelintir orang di perkotaan?

Ringkasan Kabar

Laporan terbaru dari Ericsson Mobility Report (EMR) edisi November 2025 menunjukkan bahwa adopsi 5G secara global terus melonjak pesat. Diprediksi, jumlah pelanggan 5G akan mencapai 6,4 miliar pada tahun 2031, atau setara dua pertiga dari total pengguna seluler dunia. Pendorong utamanya adalah teknologi canggih 5G yang lebih mandiri (sering disebut 5G Standalone atau 5G SA) dan kemampuan ‘memotong’ jaringan menjadi jalur-jalur khusus yang disebut network slicing.

Saat ini, sudah ada puluhan operator di seluruh dunia yang menyediakan layanan network slicing. Bayangkan, Anda bisa punya ‘jalur pribadi’ di internet yang super ngebut dan stabil untuk kebutuhan spesifik, misalnya untuk bermain game online tanpa lag, menjalankan operasional perusahaan, atau bahkan kebutuhan pabrik. Teknologi ini memungkinkan pengalaman internet yang disesuaikan berdasarkan nilai layanan, bukan lagi sekadar jumlah kuota data.

Kabar baiknya, implementasi 5G SA ini semakin matang. Ini adalah kunci untuk layanan dengan kecepatan super rendah (latensi rendah), koneksi yang sangat stabil, dan kemampuan memisahkan jaringan yang sangat dibutuhkan untuk aplikasi-aplikasi penting seperti otomotif, IoT (Internet of Things), hingga layanan hiburan generasi baru. Bahkan, Ericsson memproyeksikan teknologi ini akan menjadi tulang punggung internet global, menangani 83 persen trafik data pada 2031.

Salah satu terobosan besar yang sangat relevan adalah Fixed Wireless Access (FWA) atau internet rumah tanpa kabel yang mengandalkan sinyal 5G. Ini artinya, tidak perlu lagi kabel fiber optik yang rumit untuk memasang internet di rumah, sangat cocok untuk daerah yang sulit dijangkau. Diprediksi, 1,4 miliar pengguna FWA akan ada pada tahun 2031, sebagian besar menggunakan jaringan 5G.

Dampak Bagi Kita

Bagi masyarakat umum dan warga desa, kabar perkembangan 5G ini bisa jadi angin segar penuh harapan. Internet yang jauh lebih cepat dan stabil berpotensi mengubah banyak hal dalam kehidupan sehari-hari:

  • Peluang Baru untuk UMKM dan Pendidikan: Dengan internet ngebut, para pelaku UMKM di desa bisa jualan online lebih lancar, menjangkau pasar yang lebih luas tanpa harus pindah ke kota. Anak-anak bisa belajar daring tanpa hambatan, mengakses berbagai informasi dan materi pelajaran dengan mudah. Ini adalah harapan besar untuk peluang usaha jasa rumahan dan pendidikan yang lebih baik.
  • Internet Rumah Lebih Mudah dengan FWA: Teknologi FWA sangat menjanjikan untuk mewujudkan `akses internet merata`. Bayangkan, desa-desa yang selama ini kesulitan mendapatkan internet kabel, kini bisa menikmati internet super cepat di rumah hanya dengan mengandalkan sinyal 5G. Ini bisa menjadi solusi jitu untuk mengisi kesenjangan digital di pelosok negeri.
  • Pertanyaan Kritis Soal Keterjangkauan: Namun, di balik semua potensi cerah ini, ada satu pertanyaan besar yang selalu menghantui: apakah kecanggihan ini akan diiringi dengan harga yang terjangkau? Konsep network slicing yang menawarkan jalur internet khusus memang bagus untuk kebutuhan spesifik, seperti gaming atau bisnis. Tapi, apakah ini berarti `paket data hemat kuota` akan tersedia untuk penggunaan sehari-hari masyarakat umum, atau justru akan muncul paket-paket super mahal untuk kalangan premium saja? Penting bagi pemerintah dan operator untuk memastikan bahwa ketersediaan spektrum yang terjangkau bisa diterjemahkan menjadi layanan yang terjangkau pula bagi rakyat. Waspada! Janji Manis Internet Murah, Benarkah Sesuai Realita di Desa?
  • Sinyal Merata Tanpa Hambatan: Meskipun 5G menjanjikan kecepatan tinggi, kita tentu berharap sinyalnya juga bisa menjangkau pelosok desa tanpa hambatan. Tidak ada gunanya internet cepat jika sinyalnya masih putus-putus atau sulit dijangkau. Harapannya, dengan jaringan 5G yang lebih canggih dan merata, kebutuhan akan aplikasi penguat sinyal akan semakin berkurang, dan setiap rumah tangga bisa menikmati koneksi yang stabil.

Percepatan transformasi digital Indonesia sangat bergantung pada bagaimana teknologi 5G ini dapat dimanfaatkan secara inklusif. Semoga di era 5G, janji `akses internet merata` bisa benar-benar terwujud, membawa manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat, dari kota hingga pelosok desa.


Sumber Foto: Dokumentasi Media / inet.detik.com

By mangasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *