BALIGE BIZ – Pernahkah Anda merasa bingung, sudah jualan kok rasanya uangnya gitu-gitu aja? Atau bahkan malah minus? Jangan khawatir, Anda tidak sendirian. Banyak pelaku UMKM merasakan hal yang sama. Kuncinya ada pada satu rahasia bisnis yang sering diabaikan tapi super penting: Break Even Point (BEP). Ini bukan cuma angka-angka akuntansi yang rumit, lho. Ini adalah peta harta karun Anda! Dengan tahu BEP, Anda bisa tahu kapan bisnis Anda mulai menghasilkan keuntungan, kapan harus ngebut, dan kapan harus sedikit mengerem. Dijamin, setelah ini, nasib UMKM Anda bisa berubah drastis dalam waktu singkat!
Peluang Usaha
Memahami Break Even Point membuka mata Anda terhadap banyak peluang. Bayangkan, Anda tahu persis berapa unit produk yang harus terjual atau berapa omzet yang harus dicapai agar semua biaya tertutup dan Anda mulai untung. Ini memberi Anda kekuatan untuk membuat keputusan bisnis yang lebih cerdas dan strategis. Mau kasih diskon? Cek BEP. Mau naikkan harga? Cek BEP. Mau tambah karyawan? Cek BEP. Anda jadi punya dasar kuat untuk setiap langkah. Ini bukan lagi “asal jalan” tapi “jalan dengan tujuan”. Peluang untuk tumbuh, berekspansi, atau bahkan menciptakan produk baru jadi terlihat lebih jelas karena Anda punya target yang terukur. Ini menghilangkan rasa cemas dan menggantinya dengan keyakinan!
Analisa Modal
Sebelum kita menghitung BEP, kita harus kenalan dulu dengan modal Anda, atau lebih tepatnya, biaya-biaya Anda. Jangan panik, ini gampang kok! Kita bagi jadi dua kategori besar:
- Biaya Tetap (Fixed Costs): Ini adalah biaya yang harus Anda keluarkan terlepas dari seberapa banyak produk yang Anda jual. Mau laku seribu atau nggak laku sama sekali, biaya ini tetap ada. Contohnya: sewa toko/tempat usaha, gaji karyawan tetap (bukan komisi), biaya internet bulanan, depresiasi peralatan. Kumpulkan semua biaya ini dalam periode tertentu (misal per bulan).
- Biaya Variabel (Variable Costs): Ini adalah biaya yang berubah sebanding dengan jumlah produk yang Anda hasilkan atau jual. Semakin banyak produksi, semakin besar biayanya. Contohnya: biaya bahan baku per produk, biaya kemasan per produk, ongkos kirim per produk, komisi penjualan untuk karyawan (jika ada). Anda harus menghitung biaya variabel per unit produk.
Dengan memilah biaya-biaya ini, Anda sudah punya fondasi kuat untuk menghitung BEP.
Langkah Memulai
Siap untuk menghitung rahasia Anda? Ini dia langkah-langkahnya:
- Langkah 1: Kenali Harga Jual per Unit.
Ini harga yang Anda tetapkan untuk setiap produk atau jasa yang Anda tawarkan. Misalnya, Anda jualan kopi seharga Rp20.000 per gelas. - Langkah 2: Hitung Margin Kontribusi per Unit.
Margin kontribusi ini adalah uang yang tersisa dari setiap produk yang terjual setelah dikurangi biaya variabel. Uang ini nantinya dipakai untuk menutupi biaya tetap Anda.
Rumusnya:Margin Kontribusi per Unit = Harga Jual per Unit - Biaya Variabel per Unit
Contoh: Harga jual kopi Rp20.000, biaya variabel (biji kopi, susu, gelas, listrik) Rp8.000. Maka, Margin Kontribusi per Unit adalah Rp20.000 – Rp8.000 = Rp12.000. - Langkah 3: Terapkan Rumus Break Even Point (Unit).
Sekarang saatnya menghitung berapa unit produk yang harus terjual agar biaya tetap Anda tertutupi.
Rumusnya:BEP (Unit) = Total Biaya Tetap / Margin Kontribusi per Unit
Contoh: Total biaya tetap Anda per bulan (sewa, gaji, internet) adalah Rp3.600.000. Margin kontribusi per unit kopi adalah Rp12.000.
Maka, BEP (Unit) = Rp3.600.000 / Rp12.000 = 300 unit.
Artinya, Anda harus menjual 300 gelas kopi setiap bulan untuk menutup semua biaya. Setelah gelas ke-301, barulah Anda mulai untung! - Langkah 4: Hitung Break Even Point (Rupiah/Omzet).
Jika Anda ingin tahu berapa total omzet yang harus dicapai untuk impas, caranya mudah setelah tahu BEP unit.
Rumusnya:BEP (Rupiah) = BEP (Unit) x Harga Jual per Unit
Contoh: 300 unit x Rp20.000 = Rp6.000.000.
Artinya, Anda perlu mencapai omzet Rp6.000.000 per bulan untuk menutup semua biaya.
Sumber Foto: Ilustrasi Unsplash (Bebas Royalti)