BALIGE BIZ – Pernahkah Anda sebagai pelaku UMKM merasa pusing tujuh keliling saat harus menentukan harga jual produk? Seringkali, fokus utama hanya pada Harga Pokok Produksi (HPP) saja. Padahal, HPP itu ibarat pondasi, penting memang, tapi rumah tidak akan berdiri kokoh dan nyaman hanya dengan pondasi. Ada banyak faktor lain yang harus diperhitungkan agar produk Anda tidak hanya laku, tapi juga membawa cuan yang melejit! Yuk, kita bongkar bersama cara paling gampang menentukan harga jual produk UMKM Anda!
Peluang Usaha
Setiap produk UMKM memiliki potensi besar untuk berkembang dan menghasilkan keuntungan berlipat ganda. Namun, potensi ini seringkali terganjal oleh penetapan harga yang kurang tepat. Banyak UMKM yang takut untuk mengambil margin keuntungan yang layak, khawatir produknya tidak laku, atau malah mematok harga terlalu tinggi tanpa dasar yang kuat. Padahal, dengan strategi penetapan harga yang cerdas, Anda bisa bersaing sehat, meningkatkan citra merek, bahkan memiliki dana cadangan untuk inovasi dan pengembangan produk baru. Ini adalah peluang emas untuk tidak hanya bertahan, tapi juga tumbuh dan berinvestasi kembali pada usaha Anda, menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan dan tentunya, cuan yang tak terduga!
Analisa Modal
Oke, lupakan sejenak angka HPP yang kadang bikin mumet. Mari kita lihat modal atau biaya yang harus Anda keluarkan secara lebih menyeluruh. Ini bukan cuma biaya bahan baku, lho! Supaya cuan Anda melejit, pastikan semua ini sudah masuk hitungan:
- Bahan Baku Langsung: Ini sudah pasti, harga semua bahan mentah yang membentuk produk Anda. Jangan sampai ada yang terlewat!
- Tenaga Kerja Langsung: Kalau Anda punya karyawan yang langsung terlibat produksi, hitung gaji mereka per produk. Kalau Anda sendiri yang mengerjakan, jangan lupa hitung “gaji” Anda sendiri per jam atau per produk. Pekerjaan Anda itu berharga!
- Biaya Overhead Produksi: Nah, ini sering terlupakan! Contohnya:
- Sewa Tempat: Kalau Anda menyewa dapur, toko, atau workshop.
- Listrik, Air, Gas: Biaya operasional sehari-hari.
- Penyusutan Alat: Mesin atau peralatan yang Anda gunakan lama-lama akan aus, sisihkan dana untuk perawatan atau penggantian.
- Bahan Penolong: Misalnya minyak goreng untuk proses menggoreng, sabun cuci, atau alat kebersihan.
- Kemasan (Packaging): Kardus, plastik, label, stiker, pita – semua ini harus masuk hitungan agar produk tampil menarik.
- Biaya Pemasaran dan Penjualan: Iklan di media sosial, biaya endorse, cetak brosur, biaya ikut bazaar, atau diskon promosi. Ini penting untuk mengenalkan produk Anda!
- Biaya Administrasi Umum: Pulsa internet, alat tulis, biaya bank, atau biaya perizinan. Kadang terlihat kecil tapi kalau diakumulasi jadi besar.
- Biaya Tak Terduga: Selalu sisihkan sedikit untuk “jaga-jaga” kalau ada kerusakan mendadak atau kenaikan harga bahan baku. Anggap saja dana darurat usaha.
Total dari semua poin di atas adalah Biaya Total Anda per produk. Jangan hanya HPP, ya! Kalau ini sudah ketemu, barulah kita siap melangkah ke penentuan harga jual yang bikin cuan!
Langkah Memulai
Ini dia jurus jitu menentukan harga jual tanpa harus jadi ahli ekonomi:
- Langkah 1: Hitung Biaya Total per Unit dengan Jeli (Bukan Cuma HPP!)
Seperti yang sudah kita bahas di bagian Analisa Modal, pastikan Anda punya angka pasti berapa biaya yang Anda keluarkan untuk satu unit produk Anda. Mulai dari bahan baku, tenaga kerja, sampai biaya listrik dan marketing. Catat semuanya sampai detail terkecil. Misalnya, untuk membuat satu kue, total biaya (bahan, listrik oven, gaji Anda, kemasan, biaya promosi) adalah Rp 10.000. Angka ini adalah dasar penting Anda. - Langkah 2: Tentukan Margin Keuntungan yang Realistis dan “Nafas Panjang”
Setelah tahu biaya total per unit, sekarang saatnya Anda menentukan berapa keuntungan yang Anda inginkan. Ini adalah “nafsu” Anda dalam berbisnis, tapi harus realistis. Jangan takut ambil keuntungan! Angka 30% sampai 50% dari biaya total itu wajar untuk UMKM, tergantung jenis produk dan pasarnya.
Contoh: Kalau biaya total kue Anda Rp 10.000, dan Anda ingin untung 40%, maka keuntungannya adalah Rp 4.000 (40% x Rp 10.000). Jadi, harga jual awal Anda adalah Rp 10.000 + Rp 4.000 = Rp 14.000. Margin ini bukan hanya untuk “untung”, tapi juga untuk dana pengembangan, inovasi, dan “nafas panjang” saat ada biaya tak terduga. - Langkah 3: Intip Pesaing dan Pahami Nilai Produk Anda (Jangan Asal Banting Harga!)
Sekarang, coba lihat harga jual produk sejenis di pasaran. Berapa yang dipatok pesaing Anda? Jangan panik kalau harga Anda lebih tinggi atau lebih rendah.- Kalau harga Anda lebih tinggi: Apakah karena kualitas bahan baku Anda premium? Proses pengerjaan yang rumit dan handmade? Kemasan yang eksklusif? Pelayanan purna jual yang lebih baik? Jelaskan “nilai lebih” ini kepada pelanggan agar mereka tidak keberatan membayar lebih.
- Kalau harga Anda lebih rendah: Hati-hati, apakah Anda sudah menghitung semua biaya? Atau justru Anda punya keunggulan efisiensi yang bisa jadi daya saing?
Yang terpenting, jangan asal banting harga hanya karena ikut-ikutan. Sesuaikan harga dengan nilai yang Anda tawarkan dan target pasar Anda.
- Langkah 4: Terapkan Harga Psikologis (Biar Makin Memikat!)
Ini trik kecil tapi ampuh! Coba perhatikan toko-toko besar, seringkali harga diakhiri dengan angka 9 (misalnya Rp 14.900 bukan Rp 15.000). Ini memberikan kesan lebih murah di mata pembeli. Atau, Anda bisa membuat paket bundling (misalnya beli 3 lebih murah) untuk mendorong pembelian lebih banyak. Jangan ragu bereksperimen dengan angka-angka ini untuk melihat respons pasar.
Sumber Foto: Ilustrasi Unsplash (Bebas Royalti)